start over Kapan Rakyat Menjadi Raja?

FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

Rabu, 16 Agustus 2017

Kapan Rakyat Menjadi Raja?

Kapan Rakyat Menjadi Raja?




punakawanSeorang penulis tua membuka jendela di kamar kerjanya. Udara segar masuk bersama debu yang menempel di layar laptopnya yang disayang- sayang.

Dia memeriksa naskah yang belum selesai ditulisnya semalam. Sekarang malah dikoreksi lagi. Kapan selesainya kalau begini Mbah? Nah, lihat, keningnya berkerut-kerut. Apa yang ada di dalam kepala Simbah itu? “Kapan rakyat menjadi raja?” “Ya kapan-kapan saja Mbah, masih banyak waktu.”

“Hushh… Diem kau. Simbah sedang berfilsafat.” “Filsafaaaaaat? Filsafat apaan Mbah?” “Kapan rakyat menjadi raja? Kapan rakyat menjadi raja? Ha? Ha? Kapan? Kapan? Ini pertanyaan filsafat politik yang meresahkan. Pernah kamu resah?’ “Ngapain resah Mbah?” “Kamu rakyat apa bukan? Dasar otak bebal hati beku macam batu. Kamu tahu batu?” “Tahu Mbah. Batu bata, batu karang, batu kapur, batu apung. Tapi yang enak gula batu Mbah,” “Gula batu nenek moyang kau? Duduk. Dengerin Simbah.” Dia duduk dengan resah. Kelihatannya takut pada Simbah. ”Dengar. Mana kupingmu?” “Ini Mbah…” dia menunjukkan kupingnya. Simbah menjewernya dengan gemas. “Aduh Mbah, ampun, ampun Mbah.” “Dengar. Di negeri ini, selembar daun kering masih lebih berharga dari rakyat. He… he… he….Betapa getir kehidupan negeri ini. Betapa nista penggedepenggede kita. Ini ironi politik. Sungguh ironis.”

Dia membayangkan rakyat sungguhsengsara. Dan, kemanusiaan betapa sia-sianya. Dalam benaknya, jutaan rakyat yang sengsara itu bertanya. Suara mereka bergulung-gulung seperti bunyi lebah di gua yang dalam. “Kapan rakyat menjadi raja. Kapan rakyat menjadi raja. Kapan rakyat menjadi raja. Kapan, kapan, kapan…Mengapa kita lupa memperjuangkannya?” “Kapan rakyat makan enak? Kapan rakyat sehat-sehat? Kapan rakyat boleh pinjam uang di bank? Kapan rakyat punya rumah? Kapan rakyat kebagian pekerjaan? Kapan rakyat didatangi keadilan? Kapan rakyat berhenti jadi TKI? Kapan pemimpin berhenti menipu diri? Tatanan hidup kita sudah rusak.” Soko guru kehidupan kita doyong, miring, bahkan ambruk.

Tak terkecuali soko guru kehidupan di bidang rohani. Lalu kapan datangnya Ratu Adil, yang bakal mengatur lakon Rakyat Menjadi Raja? Kapan, kapan, kapan? Mungkin ini tak akan pernah terjadi kalau para pemimpin rohani masih tetap sibuk berjualan ayat-ayat suci demi memperkaya diri sendiri. Kapan ulama berhenti menjadi ulama usu’, yang sibuk menghias tahta dan mahkotanya sendiri?

Dengan kata lain, kapan ulama bisa belajar dari khutbahkhutbah mereka sendiri, tentang zuhud, asketisme, dan tentang kesederhanaan yang tak kalah mentereng dibanding kemegahan duniawi yang mereka tahu hanya fana belaka? Kapan rakyat menjadi raja. Ini pertanyaan filsafat politik.

Kita telah ditipu para pemimpin. Semua setuju kita mendirikan negara Republik, dan demokrasi menjadi ruh utamanya. Tapi, para pemimpin durjana itu diam-diam mengubah Republik kita menjadi kerajaan. Kurang ajar. Raja-raja Jawa, yang kekurangan harga diri, yang hidup dalam sindrom Mataram, berkuasa di Republik ini, merampok kedaulatanku, kedaulatan Yu Senik, Yu Parni, Yu Siti, dan Kang Kamin, dan kawan-kawannya. Tahta kita dirampok terang-terangan di siang bolong. Kapan rakyat menjadi raja? Kapan Satrio Piningit itu dimunculkan?

Apa kerjanya para dewa kalau momentum penting itu ditutup sepanjang abad? Apa kerjanya Mbah Semar kalau rakyat dibiarkan lapar? Penguasa menikam kita sambil tersenyum, gaya jenderal Jawa, yang punya dendam dengan kemiskinan masa lalunya. Semua bicara Pancasila, dengan ketuhanan yang disembunyikan di balik ukiran Jepara di kamar kerjanya. Keadilan ditunda- tunda.

Kemanusiaan dibiarkan tersia-sia. Kedaulatan kita dirampok. Kita ditipu mentah-mentah. Lalu, kita ber-trwikrama. Kita marah besar. Terjadilah gorogoro. Apatanda sebuah goro-goro? “Eka bumi, dwi sawah, tri gunung, catur samodra, panca taru, sat pangonan, sapta pandita, asta tawang,nawa dewa, dasa ratu…” Bumi gonjang-ganjing. Kaum munafik mengintip dari dalam kegelapan, mencari siapa yang kelihatan paling reformis, untuk dijadikankawan. Dandiapunjadi reformis palsu tanpa malu-malu.

Dulu mereka ikut kejam menikami rakyat. Sekarang mereka menikam pemimpin mereka sendiri. Lalu, berteriak reformasi, reformasi, dan reformasi setiap hari. Mereka menjadi kawan para intelektual. Mereka pun bergabung dengan para aktivis. Sering pula mereka hadir di dalam seminar-seminar, sarasehan, dan majelis-majelis di mana nasib rakyat dibicarakan. Nasib rakyat dibicarakan? Ini mengulang diskursus birokrasi bertahun-tahun yang lalu: yang hanya memproduksi katakata.

Nasib tak bisa sekadar dibicarakan. Nasib harus diubah dan diubah dengan kerja, dengan tindakan, dalam program yang jelas. Ini momentum ketika rakyat sudah bisa menjadi raja? Ternyata bukan. Momentum itu disabot orang. Dan, kita mencatat, reformasi hanya berhasil memindahkan kursi, dan menemukansepotongungkapanyang dianggap seperti mantra pembebasan: reformasi birokrasi. Isinya pidato demi pidato yang membikin bising. Dan, pidato hanya memproduksi katakata yang tak lagi punya makna. Reformasi birokrasi kehilangan maknanya di ruang kerja menteri, di ruang rapat departemen, dan di istana maupun di bina graha.

Tapi, birokrasi masih juga percaya pada kata-kata. Mungkin karena orang-orang di dalamnya tak punya kompetensi lain selain berkata-kata. Tak pernah di birokrasi lahir kesadaran untuk menghemat kata. Apalagi menghemat anggaran. Mereka tak bisa belajar dari dunia teater seperti dilakukan Rendra dengan teater minikata. Jangan terlalu banyak kata-kata.

Tapi, birokrasi semakin memperbanyak kata, dengan mengurangi kerja. Tiap pihak membisikkan untuk diri mereka sendiri: kurangi kerja. Perbanyak kata-kata. Dan, kata-kata pun merajalela dalam pidato, dalam upacara, dalam rapat, bahkan juga dalam ibadah demi ibadah yang mereka lakukan. Hidup hanyalah kata-kata. Simbah sudah lelah. Punggungnya terasa pegal-pegal.

Dia menggeletak sebentar di lantai ruang kerjanya. Dalam tidurnya yang nyenyak karena kelelahan, Simbah bermimpi, orang-orang berkumpul di halaman Istana Presiden. Mereka bertanya. Mereka menuntut. Suara mereka bising seperti dengung ribuan lebah di gua yang dalam. Kapan rakyat menjadi raja…. Kapan rakyat menjadi raja…. Kapan rakyat menjadi raja….

Be Sociable, Share!

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan