start over Memahami Esensi Beda Pendapat Agar Lebih Bijak

FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

Minggu, 25 Juni 2017

Memahami Esensi Beda Pendapat Agar Lebih Bijak

Memahami Esensi Beda Pendapat Agar Lebih Bijak




Filsafat 2

Berbeda pendapat? Tentu saja hal biasa dan akan selalu ada. Selama kita berada dalam format berinteraksi dengan orang lain, seiring dalam pergaulan keseharian kita yang tak bisa terlepas dari dunia komunikasi dengan orang lain. Setiap interaksi akan diikuti dengan tukar pikiran beragam hal atau obyek. Tukar pikiran yang berasal dari olah pikir yang bebas. Saat berolah pikir inilah terlukiskan gambaran masing-masing pribadi soal sesuatu hal. Melukiskan olah pikir dalam kata dan bahasa, menjadi sebuah pemahaman yang mampu ditangkap orang lain.

Secara makro kebebasan berpendapat dan perbedaan pendapat telah diatur secara formal, maupun informal, yakni dalam koridor hukum kenegaraan dan kemasyarakatan. Namun perlu dipahami bahwa berpendapat adalah ruang pribadi yang bebas dalam menyampaikan sebuah pandangan. Lalu bagaimana esensi pandangan/ pendapat secara mikro?

Berbeda Pendapat, Berbeda Tingkat Pemahaman

Pendapat berkaitan dengan rasio. Rasio mengolah menghasilkan pemahaman. Rasio yang berbeda akan menghasilkan pemahaman berbeda. Pemahaman akan berbuah menjadi pendapat atau pandangan. Pendapat dari aktivitas berpikir rasio kita.

Keberadaan status diantara masing-masing pribadi menentukkan pemahaman yang diserapnya. Tentunya hasilnya akan berujud pada pendapatnya. Dan pendapat itu adalah sebuah kebenaran berada. Kebenaran atas pemahaman dilingkupnya.

Pemahaman dan Konflik

Pada saat pemahaman terhadap sebuah obyek materi dipertemukan maka akan bertemu pula pemahaman yang berbeda. Disinilah akan muncul perbedaan pendapat. Apabila menyikapi hal tersebut sebagai sebuah pemahaman yang layak berbeda, maka tidak menjadi persoalan. Namun seringkali kita selalu ‘menempelkan label’ terhadap segala hal berdasar­kan pandangan diri sendiri. Kebenaran akan diri sendiri yang akhirnya tidak mau memahami pemahaman orang lain, tidak mau menerima pendapat orang lain. Maka yang terjadi adalah perbedaan pendapat yang diikuti tindakan yang tidak sehat dan bijak lagi. Pemaksaan kehendak, memaksakan kebenaran pendapat dan lain-lain. Lupa, bahwa kebenaran pemahaman kita berada di satu tingkat pemahaman bukan tingkatan yang lain.

Bijak dalam Perbedaan Pendapat

 

Pendapat dari sebuah pemahaman tidak bisa dipaksakan. Memaksakan sebuah pemahaman dari tingkat pemahaman yang berbeda akan membawa pada kondisi ekstrim. Saat yang satu dipaksakan diberlakukan pada lainnya. Tentu akan sulit diterima sebagai yang sama. Pemahaman yang sama. Lalu bagaimana menyatukan pemahaman?

Adalah penerimaan akan pemahaman dari orang lain dengan memahami prinsip tingkat pemahaman itu sendiri. Bersinergi, berbesar hati, lapang dada dalam menerima pemahaman orang lain dari tingkat yang berbeda. Yang akhirnya muncul adalah sikap menghargai secara bijaksana segala perbedaan pandangan itu. Sehingga konflik-konflik yang muncul, dihargai sebagai sebuah gemblengan kedewasaan antar pemahaman pribadi.

Perbedaan pemahaman dan perbedaan pendapat akan terus langgeng menjadi dinamika dalam kehidupan kita. Oleh karenanya menghargai pendapat orang lain dalam kerangka kebebasan berpendapat menjadi pemahaman yang perlu kita kedepankan. Baik itu interaksi melalui media, melalui lisan/ langsung di setiap aktivitas kita.

Mengutip istilah pujangga besar Su Zhe dari zaman Dinasti Tang dan Song (1039-1112) di Tiongkok, yang mengatakan, “Perlebar dada kita, langit besar, bumi besar, manusia juga menjadi besar.”

Jadi mari bijak dan sabar menghadapi beragam perbedaan pendapat, agar energi positifnya membuat kita menjadi orang ‘berjiwa besar’ dan Bijaksana.

Share Di Social Media:

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan