start over Neokolonialisme, Penjajahan Gaya Baru - FAKTA.CO.ID

FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

Kamis, 20 Juli 2017

Neokolonialisme, Penjajahan Gaya Baru

Neokolonialisme, Penjajahan Gaya Baru




Ilustrasi Neokolonialisme

Sejak dahulu baik Timur maupun Barat, keduanya sama-sama ingin menjadikan kita sebagai kacung. Dan alih-alih bekerjasama melawan mereka, kita masih saja sibuk berperang sesama “kacung”.

Kalau kita membaca kembali tulisan-tulisan para pendiri Republik, problem yang mereka hadapi sebenarnya tak jauh berbeda dengan yang kita hadapi hari ini.

Prasangka terhadap Komunisme, Ahmadiyah, Syiah, serta berbagai aliran keagamaan, pemikiran dan ideologi, juga sudah hadir pada zaman mereka. Bedanya, mereka sanggup berpikir cerdik dan bijak, bahwa masalah utama yang harus dihadapi oleh kaum Bumiputera bukanlah semua itu tadi, melainkan kolonialisme, yang kalau di era sekarang disebut neokolonialisme, sebuah moda neoliberalisme.

Selain neokolonialisme, globalisasi adalah moda neoliberalisme lainnya. Sedang neoliberalisme itu sendiri merupakan anak kandung kapitalisme. Saat ini, lingkaran setan itu dilahirkan oleh Timur (Tiongkok) dan Barat (Barat).

Seperti halnya kolonialisme di masa Hindia-Belanda dulu, praktek neokolonialisme hari ini hanya bisa dienyahkan jika si Tradisionalis, si Modernis, si Santri, si Komunis, si Syiah, si Ahmadiyah, atau si Katolik Bumiputera menyadari posisinya dan saling bekerjasama untuk menggusur neokolonialisme tadi.

Jadi, apa yang kini seharusnya kita lawan atau waspadai ?

Neokolonialisme. Bentuk penjajahan gaya baru yang bersembunyi di balik serangan non-militer atau Perang Asimetri (assymetric warfare), yang sayangnya dimaknai secara sempit oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dengan mengusung konsep “Bela Negara” yang sudah out of date dengan tantangan zaman.

Yang dibela itu negaranya siapa, sementara 175 juta ha dari 191 juta ha luas daratan NKRI sudah dikuasai oleh Asing dan Aseng.

Kondisi ini diperparah oleh Presiden kita dengan menggabungkan negara kita masuk ke dalam Trans Pacific Partnership.

Bukankah wadah dagang 12 negara ini adalah bentuk neokolonialisme, Saudara-Saudara ?

 

Oleh : El Comandante

Email : arvindo_ezran@yahoo.com

 

Share Di Social Media:

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

One Response

  1. oldy19 Januari 2016 at 09:55Reply

    ngeri ya…

Tinggalkan Balasan