start over Anak-anak Yang Mengikuti PAUD dan TK Seharusnya Tidak Diajarkan Calistung

FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

Kamis, 30 Maret 2017

Anak-anak Yang Mengikuti PAUD dan TK Seharusnya Tidak Diajarkan Calistung

Anak-anak Yang Mengikuti PAUD dan TK Seharusnya Tidak Diajarkan Calistung




itemeditorimage_56025c407d32d

JAKARTA – Banyak orangtua ingin anaknya cepat pandai membaca, menulis, dan berhitung atau dikenal dengan singkatan calistung. Akhirnya, mereka pun diajarkan calistung sedini mungkin, melalui kelompok PAUD (pendidikan anak usia dini) dan Taman Kanak-kanak (TK).

Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Ahmad Suryawan menegaskan, anak-anak yang mengikuti PAUD dan TK seharusnya tidak diajarkan calistung.

“Calistung boleh dikenalkan, tapi tidak perlu,” kata dokter anak yang akrab disapa Wawan dalam acara peluncuran Morinaga Platinum Moricare+ Prodiges di Jakarta, Kamis (19/11/2015).

Wawan mengatakan, anak diajarkan calistung sebaiknya saat duduk di Sekolah Dasar (SD). Memang ada anak yang mulai bisa calistung pada usia dini. Tapi, jika anak belum bisa calistung sebelum memasuki SD pun orangtua tidak perlu khawatir.

Namun, menurut Wawan, orangtua tak sepenuhnya salah jika menginginkan anaknya cepat diajarkan calistung. Sebab, sejumlah SD masih menerapkan tes calistung kepada anak untuk bisa masuk di sekolah tersebut.

“Harus ada ketegasan, tidak boleh ada ujian atau syarat calistung untuk masuk SD. Itu sudah dilarang,” kata Wawan.

Akibatnya, mau tidak mau anak dipaksa belajar calistung pada usia yang tidak seharusnya. Hal ini tidak baik untuk perkembangan otak anak.

“Anak bisa melakukan kegiatan itu, tapi tidak mempunyai pengertian runutan-runutan. Contohnya sembilan tambah lima sama dengan 14 dia tahu. Tapi, ketika dikasih soal lain dia enggak bisa,” jelas Wawan.

Psikolog Rose Mini A Prianto mengatakan, mengenalkan calistung seharusnya sesuai usia anak. “Misalnya, tanya ke anak, orang yang duduk di situ lebih banyak atau sedikit, itu calistung. Benda ini lebih besar atau kecil, itu calistung. Jadi bukan dipaksa diajarkan dua tambah dua sama dengan,” jelas psikolog yang akrab disapa Romi.

Share Di Social Media:

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

One Response

  1. wahid21 November 2015 at 13:58Reply

    setuju, kadang orang tua terlalu memaksakan kehendaknya

Tinggalkan Balasan