start over Balada Pemulung Menggapai Sarjana - FAKTA.CO.ID

FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

Sabtu, 21 Oktober 2017

Balada Pemulung Menggapai Sarjana

Balada Pemulung Menggapai Sarjana




Wahyu Pemulung Sarjana

Sepuluh tahun lalu, Wahyudin kecil memulai harinya dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Alternatif Cibubur. Ditemani tetangganya, yang dipanggilnya Bibi Ani, sulung dari tiga bersaudara itu berangkat sekitar pukul 01.00 untuk memunguti sampah.
Bocah yang masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar itu pun ‘resmi’ menjadi pemulung. Sejak itu, Wahyudin menjadi perbincangan para tetangga di sekitar tempat tinggalnya, Kampung Kalimanggis Gang Lame RT1/4, Jatikarya, Jatisampurna, Kota Bekasi.
Hidup tidak akan pernah berubah dengan sendirinya, itulah hal yang selalu ada di pikiran Wahyudin, seorang pemulung yang pada saat itu baru berusia 21 tahun. Tekadnya untuk terus mendapatkan pendidikan yang layak membuat dia berjuang dengan sangat keras.
Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, tidak pernah membuat Wahyudin berhenti memiliki mimpi yang sangat besar. Dan saat ini, dia mampu mewujudkan mimpinya itu, ia selalu berkata, “setiap manusia memiliki hak yang sama untuk mencapai mimpinya, hanya usahalah yang membedakan”.




Profesi menjadi seorang pemulung dia geluti hingga remaja. Terlahir sebagai anak dari seorang buruh tani, membuat Wahyu, nama yang biasa orang-orang memanggilnya, sadar bahwa tidak mungkin mengharapkan banyak dari orangtuanya untuk biaya pendidikanya.

Setapak demi setapak dia berjalan, dengan hanya diterangi oleh cahaya bulan dan lampu-lampu jalan yang sudah menjadi teman keseharian Wahyu dalam mencari sisa-sisa gelas air mineral. Tiupan angin yang menusuk tulang tidak membuat pria ini menjadi putus asa.
Ketika dia mulai memutuskan untuk menjadi seorang pemulung, banyak sekali cibiran dan pandangan yang tidak mengenakan. Namun, Wahyu

tetap tegar dan terus berusaha meraih mimpinya, bagaikan anjing menggonggong kafila tetap berlalu. Bahkan, pada suatu kesempatan dia pun  pernah merasa takut karena pemulung sering dianggap sebagai maling.




Namun, sepuluh tahun kemudian, pekerjaannya menjadi pemulung telah membawanya hampir menyelesaikan pendidikan hingga tingkat sarjana.
Ini dibuktikan dengan keberhasilannya menjadi mahasiswa yang dapat meraih IPK 3,85 di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr.Hamka (Uhamka), Fakultas Ekonomi, tahun 2013.

Sulit dipercaya, berkat kerja kerasnya selama ini dan lika-liku kehidupan yang telah ia jalani membuat kehidupannya berubah. Mental yang sudah terbentuk sejak ia kecil membuat dia terbiasa dengan kerasnya kehidupan.
Sebuah pribahasa mengatakan, “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”, inilah yang di buktikan oleh Wahyu. Walaupun menjadi seorang pemulung, dia tetap bisa menyelesaikan sarjananya dengan nilai yang memuaskan. Serta pribahasa lain menyebutkan, “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina”, ini juga yang dilakukan oleh Wahyu. Tidak puas akan gelar sarjananya, kini ia sedang melanjutkan pendidikan S2-nya di Institut Teknologi Bandung.

Be Sociable, Share!

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan