FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

17 Desember 2017

Turunnya Pu Hyang (Puyang), Leluhur Para Penguasa Jagat Nusantara.

Turunnya Pu Hyang (Puyang), Leluhur Para Penguasa Jagat Nusantara.




Pada abad ke 2, tahun 101 Syaka (bertepatan dengan tahun 179 Masehi), tujuh bahtera tempur yang sangat besar dari Imperium kerajaan Kushan berlabuh di Pulau Seguntang. Pulau Seguntang itu adalah Bukit Seguntang yang sekarang, yaitu bukit dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, di dalam Kota Palembang. Pada masa itu, sekitar abad kedua Masehi, daerah Sumatera Selatan masih merupakan rawa-rawa yang sangat luas. Hanya ada beberapa daratan yang tampak seperti terapung di atas permukaan laut.

Daratan yang muncul di atas permukaan laut itu adalah (1) Bukit Seguntang, sebagai apung pertama; (2) Kute Abung Bukit Serela, sebagai apung tengah; dan (3) Daratan Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya Gunung Dempu, sebagai apung kulon (apung barat). Kute Abung Bukit Serela adalah Bukit Serela di Kabupaten Lahat, yang sekarang dikenal juga dengan nama Bukit Jempol. Disitulah pernah ditemukan jangkar jung kuno yang berasal dari awal abad Masehi.

gunung dempo

Daerah itu dikenal juga dengan sebutan Abung Tinggi. Bukit Serela atau Bukit Jempol itu tingginya 670 meter di atas permukaan laut. Dataran Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya yang bernama Gunung Dempu itu adalah yang sekarang dikenal sebagai wilayah Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat dengan gunung tertinggi di Sumatera Selatan, yang kini disebut dengan Gunung Dempo.

Gunung Dempo itu sebenarnya mempunyai tiga puncak, yaitu puncak belumut (Gunung Lumut), puncak beghapi (Gunung Berapi), dan yang tertinggi disebut puncak dempu (Gunung Dempu) dengan ketinggian 3.173 meter di atas permukaan laut.

Angkatan Bahtera yang berlabuh di Pulau Seguntang pada tahun 101 Syaka atau 179 Masehi itu di pimpin oleh seorang putera mahkota yang bernama Sri Mapuli Hyang Atung Bungsu, dari kerajaan Kushan di India.

Imperium Kushan adalah salah satu kerajaan yg memiliki wilayah sangat luas yg membentang dari India, Pakistan sampai utara Afghanistan, berbatasan langsung dengan Kekaisaran Han (Dinasti Han) di timur dan Parthia (Persia) di barat.

kushan imperium

kushan imperium

Asal muasal Kerajaan Kushan dimulai dari eksodus besar-besaran bangsa Yue-Chi (Yuezhi) dari barat laut China (sekarang Xinjiang) akibat gempuran Xiong nu Khanate dari utara. Mereka (Yue Chi) pindah ke asia tengah, membentuk kerajaan baru dan menaklukkan wilayah utara India, hidukush dan bagian timur Persia.

Yue Chi sendiri terbagi menjadi 5 clan yg mendiami wilayah yg berbeda-beda, dan Kushan adalah salah satu dari 5 clan tsb. Seiring dengan menguatnya Clan Kushan, Pangeran Kujula Kadphises memerintahkan untuk menyerbu 4 clan lainnya sehingga akhirnya 5 clan tersebut dapat disatukan dibawah kepemimpinan Kushan.

disebutkan bahwa Kerajaan Kushan yang berpusat di Asia Tengah itu, setelah berjaya menguasai Jalan Sutera (Silk Road) berusaha untuk mencegah terjadinya kontak dagang langsung antara Romawi dengan China lewat lautan, maka untuk itu lautan sekitar Asia Tenggara harus berada dalam pengawasan mereka pula.

Kekuatan utama militer Kushan adalah Cavalry/Horse Archer (Pasukan pemanah berkuda). Dalam satu agresi militer, bisa terkumpul 100.000 horse Archer. Dan dilautan, untuk sebuah bahtera dapat menampung 10.000 pasukan. Pada masa jayanya, Kushan sangat kuat, bahkan mereka dapat merebut kembali sebagian wilayah nenek moyang mereka (Yue Chi) dan sebagian menyebar kearah tenggara asia.

ilustrasi besarnya bahtera

ilustrasi besarnya bahtera

 

Penguasa Kushans, pada tahun 80M-200M dipimpin oleh keturunan Kaisar Liu Pang (Dinasti Han) yang beragama Buddha Mahayana. Dan memang, apabila kita perhatikan anak cucu Atung Bungsu, yang berada di daerah jagat Besemah (Pasemah), seperti di Pagar Alam, Empat Lawang, Lahat, bahkan Kaur mereka masih memiliki perawakan mirip bangsa cina.

Sri Mapuli Hyang Atung Bungsu memiliki dua orang penasihat yaitu adalah Ariya Tabing dari Kepulauan Massava (yang sekarang dikenal sebagai Filipina) dan Umayullah dari Parsi Persia (yang sekarang dikenal sebagai Iran) sekedar catatan, nama-nama arab pada saat itu sama sekali belum merefleksikan sebagai nama islam.

Perjalanan Angkatan Bahtera  Sri Mapuli Hyang Atung Bungsu tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu sebenarnya adalah perjalanan kedua yang dilakukan oleh Angkatan Bahtera Kerajaan Rau/ Kushan untuk menguasai pulau-pulau di Nusantara, yaitu pulau-pulau di tenggara benua Asia.

Perjalanan pertama berlangsung sebelum tahun 10 Syaka atau tahun 80-an Masehi. Angkatan Bahtera Kerajaan Rau/ Kushan yang berangkat ke Nusantara sebelum tahun 10 Syaka itu dipimpin oleh Sri Nuruddin yang berasal dari Kepulauan Massava (Filipina), yang pada waktu itu menjabat sebagai Ariya Passatan (salah seorang Panglima Angkatan Laut bagian asia tenggara) Kerajaan Rau/ Kushan pada pemerintahan.

Sri Nuruddin dan pasukannya telah berpuluh-puluh tahun tidak kembali ke Kerajaan Rau/ Kushan, bahkan tidak ada kabar sama sekali. Oleh sebab itu maka dikirim angkatan kedua, angkatan susulan, yang dipimpin langsung oleh  Sri Mapuli Hyang Atung Bungsu. Mereka mengharung samudera, menuju ke pulau-pulau Nusantara.Pada hari Jumat, hari ke-14, bulan Haji (bulan Zulhijjah), tahun 101 Syaka, bertepatan dengan tahun 179 Masehi, mendaratlah  Sri Mapuli Hyang Atung Bungsu yang memimpin Angkatan Tujuh Bahtera itu, di dekat pohon cendana, di Pulau Seguntang atau Bukit Seguntang.




Di situ beliau  menemukan satu bumbung (berumbung) atau guci yang berisi lempengan emas bersurat. Lempengan emas bersurat dalam guci yang ditemukan oleh  Sri Mapuli Hyang Atung Bungsu itu, ternyata adalah surat atau warkah yang ditandatangani oleh Sri Nuruddin, seorang Ariya Passetan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao), bertanggal hari kesebelas, bulan ketujuh (bulan Rajab), tahun 10 Syaka, bertepatan dengan tahun 88 Masehi.

 “Kami tak dapat lagi pulang ke India karena segala alat perlengkapan kami telah rusak binasa. Tetapi kami telah menemukan beberapa pulau, di antaranya ada yang kami namakan Tanah Jawa karena di dalamnya (di pulau itu) banyak kami mendapat buah jawa, yang kami makan dan dijadikan bubur.Barangsiapa mendapatkan barang ini (surat ini) hendaklah menyampaikannya ke hadirat Yang Diperlukan Kerajaan Rau (Rao) di India”.

Demikianlah isi surat pertama yang ditemukan oleh  Sri Mapuli Hyang Atung Bungsu di Bukit Seguntang. Setelah penemuan surat pertama itu,  Sri Mapuli Hyang Atung Bungsu menemukan surat yang kedua. Rupanya tahun pembuatan dan orang yang membuat atau menulis surat itu berlainan. Surat yang kedua ditulis pada tahun 50 Syaka (128 Masehi). Yang menulisnya adalah Ariya Saka Sepadi, Bukan Sri Nuruddin. Surat yang ditulis oleh Ariya Saka Sepadi pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) itu dituliskan pada “kain bambu” (bilah-bilah bambu) yang isinya sebagai berikut.

“Pada tahun 50 Syaka (28 Masehi),  Sri Nuruddin meninggal dunia di Muara Lematang dan kami makamkan dia di sana dengan upacara yang selayaknya. Ditulis oleh Ariya Saka Sepadi”.

Demikianlah di antara tanda-tanda yang mereka peroleh atau temukan bersama-sama dengan beberapa benda lain seperti peninggalan Angkatan Bahtera Sri Nuruddin yang telah rusak binasa pada tahun 10 Syaka (88 Masehi) dan perihal kematian Sri Nuruddin sendiri pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) di Muara Lematang, sebelah barat Bukit Seguntang.

Dua temuan itulah yang dijadikan dasar klaim pasukan Sri Mapuli Hyang Atung Bungsu terhadap jagat Besemah, termasuk klaim terhadap penghuni jagat nusantara.

Atung Bungsu merupakan leluhur dari suku Besemah, suku melayu tertua di nusantara. Seperti yang diketahui, melayu adalah dari asal kata malay yang berarti pegunungan, seperti dari kata Himalaya yang berarti barisan gunung. Keturunannya-lah yang sampai kini disebut Jeme Besemah, yang menjadi cikal bakal semua kerajaan melayu hindu-budha di nusantara, mulai dari Srivijayan (Sriwijaya), Wangsa sailendra, Mataram kuno hingga kerajaan malaka di malaysia.




Jagat Besemah Yang Nyaris Hilang

Di wilayah Pagar Alam, di lereng Gunung Dempo (3159 m), Sumatra Selatan, terdapat situs megalitik yang sangat luas, dalam kajian arkeologi Indonesia dikenal dengan nama situs megalitik Pasemah. Peneliti pertama yang membahas peninggalan arkeologi Pasemah, ialah L. Ullmann, telaahnya dimuat dalam karyanya berjudul “Hindoe-belden in de binnenlanden van Palembang” (1850), ia menyatakan bahwa arca-arca besar dari batu tunggal yang ditemukan tersebar di dataran tinggi Pagar Alam merupakan arca-arca dewa Hindu. Pernyataan itu diperkuat oleh E. P. Tombrink dalam karyanya yang berjudul ‘Hindoe-monumenten in Bovenlanden van Palembang” (1872). Dalam karyanya Tombrink menyimpulkan bahwa kepurbakalaan yang terdapat di pedalaman Palembang, atau di Tanah Basemah dibangun oleh orang-orang dari masa silam yang mendukung kebudayaan Hindu. Begitupun L. C, Westenenk dalam makalahnya yang berjudul “De Hindoe-Javanen in Midden- en Zuid Sumatra” (1921) dan”De Hindoe-Oudheden in de Pasemah-Hoogvlakte (Residentie Palembang)” (1922), menyatakan bahwa peninggalan kepurbakalaan di Pasemah tersebut berasal dari aktivitas orang yang beragama Hindu yang berasal dari luar Sumatera.

gadis pengantin Besemah

gadis pengantin Besemah

 

Peneliti yang secara luas mempelajari situs Pasemah ialah A. N. J. Th. a. Th. van Der Hoop dalam bukunya Megalithic Remains in South Sumatra (1932). Ia menyimpulkan bahwa arca-arca di situs Pasemah dibuat oleh masyarakat megalitik. Hasil kajian Van Der Hoop mencatat adanya bermacam peninggalan kebudayaan megalitik di dataran tinggi Pasemah, sebagai berikut:

  1. Arca-arca yang diletakkan di berbagai lokasi, dengan orientasi berbeda menghadap ke berbagai arah.
  2. Lesung batu, menurut Van der Hoop benda ini dapat dijadikan penanda adanya garis poros, namun tidak dijelaskan apa yang dimaksudkan dengan garis poros tersebut.
  3. Palung batu, bentuknya seperti sarkopagus dalam ukuran kecil, mungkin sebagai tempat untuk meletakkan tulang belulang si mati dalam proses penguburan kedua (secondary burial).
  4. Batu-batu tegak (menhir) yang berdiri terpisah-pisah
  5. Tetralith: kelompok 4 batu dengan denah empat persegi panjang, orientasinya timur- barat, terletak antara lain di Gunungmegang. Kelompok tetralith tersebut ada yang ditata dengan teratur, tetapi ada juga yang diletakkan “asal-asalan”.
  6. 6. Jalan dengan hamparan batu (stone avenue), terletak di Talang Padang dengan orientasi utara selatan.
  7. Dolmen ditemukan di banyak lokasi, tidak memperlihatkan adanya pola atau garis poros yang dapat dihubungkan dengan keletakkan tersebut.
  8. Kubur batu (stonecist),hampir semua kubur batu mempunyai orientasi timur-barat, dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa tradisi penguburan yang dikenal dalam kebudayaan Pasemah kuno adalah dengan arah demikian.
  9. Batu-batu berlubang atau disebut juga batu dakort ditemukan di beberapa tempat ada yang mempunyai banyak sekali lubang di permukaannya, ada pula yang hanya sedikit lubang.
  10. Kuburan bertingkat (terrace graves), dalam sumber tradisi dianggap sebagai kuburan si Pahit Lidah terdapat di daerah Mingkik.

Punden berundak tersebut mempunyai orientasi barat laut-tenggara, jika dibandingkan dengan punden bertingkat di Lebak Sibedug Banten, maka orientasinya berbeda, karena punden berundak Lebak Sibedug mempunyai orientasi timur-barat. Demikianlah dalam hal orientasi mata angin, maka megalitik di Pasemah mempunyai dua macam orientasi yang selalu dikenal, yaitu timur- barat dan barat laut-tenggara (van Der Hoop 1932: 151-153).

Van Der Hoop menyatakan bahwa para pendukung kebudayaan megalitik di Pasemah dipastikan bukan dari orang-orang Negrito, sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh L. C. Westenenk (1921 & 1922.

penganti Besemah Padang Guci

pengantin Besemah Padang Guci

 

Jeme Besemah Sang Pelindung Nusantara

Barang siapa yang mendaki Bukit Barisan dari arah Bengkulu. kemudian menjejakkan kaki di tanah kerajaan Palembang yang begitu luas; dan barang siapa yang melangkahkan kakinya dari arah utara Ampat Lawang (negeri empat gerbang) menuju ke dataran Lintang yang indah, sehingga ia mencapai kaki sebelah Barat Gunung Dempo, maka sudah pastilah ia di negeri orang Pasemah.

Jika ia berjalan mengelilingi kaki gunung berapi itu, maka akan tibalah ia di sisi timur dataran tinggi yang luas yang menikung agak ke arah Tenggara, dan jika dari situ ia berjalan terus lebih ke arah Timur lagi hingga dataran tinggi itu berakhir pada sederetan pengunungan tempat, dari sisi itu, terbentuk perbatasan alami antara negeri Pasemah yang merdeka dan wilayah kekuasaan Hindia Belanda.

Dari kutipan itu tampak bahwa saat itu wilayah Pasemah masih belum masuk dalam jajahan Hindia Belanda. Operasi-operasi militer Belanda untuk menaklukkan Pasemah sendiri berlangsung lama, dari 1821 sampai 1867. Johan Hanafiah budayawan Sumatra Selatan, dalam sekapur sirih buku Sumatra Selatan Melawan Penjajah Abad 19 tersebut menyebutkan bahwa perlawanan orang Pasemah dan sekitarnya ini adalah perlawanan terpanjang dalam sejarah perjuangan di Sumatera Selatan abad 19, berlangsung hampir 50 tahun lamanya. Johan Hanafiah juga menyatakan bahwa pada awalnya orang-orang luar, khususnya orang Eropa, tidak mengenali siapa sebenarnya orang-orang Pasemah. Orang Inggris, seperti Thomas Stamford Rafless yang pahlawan perang Inggris melawan Belanda di Jawa (1811) dan terakhir mendapat kedudukan di Bengkulu dengan pangkat besar (1817-1824) menyebutnya dengan Passumah. Namun kesan yang dimunculkan adalah bahwa orang-orang Passumah ini adalah orang-orang yang liar.

Dalam The British History in West Sumatra yang ditulis oleh John Bastin, disebutkan bahwa bandit-bandit yang tidak tahu hukum (lawless) dan gagah berani dari tanah Passumah pernah menyerang distrik Manna tahun 1797.

Disebutkan pula bahwa pada tahun 1818, Inggris mengalami dua malapetaka di daerah-daerah Selatan yakni perang dengan orang-orang Passumah dan kematian-kematian karena penyakit cacar.

Pemakaian nama Passumah sebagaimana digunakan oleh orang Inggris tersebut rupanya sudah pernah pula muncul pada laporan orang Portugis jauh sebelumnya. Disebutkan dalam satu situs internet bahwa Portugis pernah mendarat di Pacem atau Passumah (Puuek, Pulau Sumatra) pada bulan Mei 1524. Namun, dari korespondensi pribadi dengan Marco Ramerini dan Barbara Watson Andaya, diperoleh konfirmasi bahwa yang dimaksudkan dalam laporan Portugis itu adalah Aceh, bukan Pasemah seperti yang dikenal ada di Sumatra Selatan sekarang. Hal ini juga terindikasi dari lokasi Pacem itu sendiri yang dituliskan berada pada 05_09’ Lintang Utara – 97_14’ Bujur Timur).

Gunung Dempo sendiri yang disebut -sebut oleh Gramberg di atas berada pada posisi 04_02’ Lintang Selatan – 103_008’ Bujur Timur. Nama Pasemah yang kini dikenal sebetulnya adalah lebih karena kesalahan pengucapan orang Belanda, demikian menurut Mohammad Saman seorang budayawan dan sesepuh di sana. Adapun pengucapan yang benar adalah “Besemah” sebagaimana masih digunakan oleh penduduk yang bermukim di sana. Namun yang kini lebih dikenal adalah nama Pasemah. Konon, munculnya nama Besemah adalah karena keterkejutan puyang Atong Bungsu manakala melihat banyak ikan “Semah” di sebuah sungai yang mengalir di lembah Dempo. Yang terucap oleh puyang tersebut kemudian adalah “Be-semah” yang berarti ada banyak ikan semah di sungai tersebut. Hal ini juga tertulis dalam sebuah manuskrip kuno beraksara Latin berjudul Sejarah Pasemah yang tersimpan.

Suku Besemah juga sering disebut sebagai suku yang suka damai tetapi juga suka perang. (Vrijheid lievende en oorlogzuchtige bergbewoners)

Istilah Pasemah, juga terdapat dalam prasasti yang dibuat oleh balatentara raja Yayanasa dari Kerajaan Sriwijaya setelah penaklukan Lampung tahun 680 Masehi yaitu “Prasasti Palas Pasemah” Dengan adanya prasasti ini, menunjukkan bahwa suku Basemah adalah bagian dan nenek moyang dari kerajaan Srivijaya (Sriwijaya).

Prasasti Hujung Langit dan Prasasti Palas Pasemah.

Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Hujung Langit

 

 

 

 

Tags: , , , , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

25 Responses

  1. Nawi

    Nawi5 September 2016 at 16:23Reply

    up

  2. Yen Dri Bin

    Yen Dri Bin5 September 2016 at 16:38Reply

    Legenda

    • Ganda Anderson7 September 2016 at 10:41Reply

      datang ke kabupaten lahat dulu liat situs nyaa…

  3. Didit Pracihno Adit

    Didit Pracihno Adit5 September 2016 at 17:52Reply

    Barti udah tua bnget ya, gw suka crita sjarah

  4. Robertho Christian Stephan

    Robertho Christian Stephan5 September 2016 at 19:17Reply

    Tau dari mne ngah, awak baru lahir getang hahahha:D:D:D

  5. Makmur Sebayang Carona

    Makmur Sebayang Carona5 September 2016 at 19:31Reply

    Legenda dodol palsu

  6. Agus Dany

    Agus Dany5 September 2016 at 19:50Reply

    konon

  7. Mownti Dubalang Faisal

    Mownti Dubalang Faisal5 September 2016 at 19:53Reply

    Turunnya puyeng (leluhurnya sakit kepala)

  8. Melle Guntulangi

    Melle Guntulangi5 September 2016 at 19:56Reply

    Iyakah….?

  9. Asep Rahman Karim

    Asep Rahman Karim5 September 2016 at 19:57Reply

    sebelum pu hyang sebenarnya sudah ada penduk asli pribuni indoneaia..

  10. Sarif

    Sarif5 September 2016 at 20:45Reply

    Puyengnya mau cari obat dulu,,,mungkin bodrexin yg cocok,,hahaa…

  11. Edo Tensei

    Edo Tensei5 September 2016 at 20:57Reply

    Puyang kasih aja puyer…

  12. Udin Tea

    Udin Tea5 September 2016 at 22:10Reply

    Klo puyang pegangan takut jatuh hahahaha

  13. Aria Tandi

    Aria Tandi5 September 2016 at 22:23Reply

    tukang obat

  14. C-vlink Marvell Sky

    C-vlink Marvell Sky5 September 2016 at 23:56Reply

    Para leluhur pasti dulu suka minum…
    Makan nya keturunan skrng Pada puyang2 ga jelas.

  15. Ganda Mana

    Ganda Mana5 September 2016 at 23:57Reply

    epu yang-yang aku sayang

  16. Andre Andre

    Andre Andre6 September 2016 at 00:02Reply

    Klo gk mengerti atau gk suka.. Anda diam aj.. Gk perlu komentar yg kurang ajar..mencemeeh.. Jgn sempat mendatangkan mudharot buat anda smua.. Ingat apa yg anda buat. Akan menuai hasilnya..

  17. Eko Sunarto

    Eko Sunarto6 September 2016 at 00:12Reply

    Kepanjangan kepentingan dari negara china untuk mencoba memasukan sejarah yg belum jelas faktanya …

  18. Ganda Anderson7 September 2016 at 10:39Reply

    klo mau komen ilmiah donk dan dibahas ilmiah dengan fakta sejarahh…. tulisan ini sudah bagus dan menjurus akan fakta dan temuan2 yang ada dilapangan… tetapi jika anda tidak bisa menjelaskan jangan komentar yang kurang baik…. silah kan berpendapat sejarah keluarga anda dulu dan temukan dari mn asal nyaa…. terus menggali dan berkarya…. apa yang kita cari dan temukan merupakan informasi di masa mendatang… orang arif,pintar, rendah hati dan terus berfikir maju .informasi 2 bisa menjadi bahan acuan untuk mendekati fakta sebenaryna yang terjadi di masa sialm… terus maju

  19. Hendri7 September 2016 at 12:47Reply

    Gak.usah bnyk.komentar dan sok.pinter..bagi.yg.gak.tau.soal.tatar pasemah….untuk.lbh jelas.silahkan.datang & buktikan megalith nya.bnyk di kota pagaralam…banding kan batu megalith nya dgn yg di pulau jawa lbh tua batu megalith mana….

  20. chiko10 September 2016 at 21:45Reply

    Para netizen tolong hargai apa yang ada pada negri kami,,,kau tau arti puyangg???
    Puyang bukan berarti puyeng,puyang itu artinya “Nenek Moyang”…!!

  21. Hanif11 September 2016 at 12:34Reply

    Dan memang, apabila kita perhatikan anak cucu Atung Bungsu, yang berada di daerah jagat Besemah (Pasemah), seperti di Pagar Alam, Empat Lawang, Lahat, bahkan Kaur mereka masih memiliki perawakan mirip bangsa cina. Maksudnyo apo ini min aku wong lahat dak usah basing ngomong men da tau sejarah seolah2 kamu ne na ngomong kami ne wong chino

  22. cpuikblogInyiak19 September 2016 at 14:09Reply

    Sebuah kajian sejarah yang bagus, perlu pendalaman lebih lanjut agar semua asal-usul bangsa ini makin jelas.

  23. Hendrik26 September 2016 at 00:20Reply

    Cerita sejarah yg bagus. Sebagai wawasan kita semua. Tidak usah diperdebatkan benar salahnya. INGAT benar atau salah sejarah itu kita sekarang hidup dalam satu kesatuan Republik INDONESIA. Aku indonesia, kamu indonesia, kita merdeka. Damai, songsong kemajuan kita bersama. Sape yg nak merusak indonesiaku belage nga aku..

  24. Roel12 September 2017 at 23:41Reply

    Banyak yg masuk akal,bagi yg kurang paham atau ga tau puyang besemah lebih baik diam,atau anda buktikan sendiri fakta dan kebenaranya.

Tinggalkan Balasan