start over Ghazwul Fikri, Bentuk Invasi Asimetris Bagi Dunia Islam - FAKTA.CO.ID

FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

Minggu, 22 Oktober 2017

Ghazwul Fikri, Bentuk Invasi Asimetris Bagi Dunia Islam

Ghazwul Fikri, Bentuk Invasi Asimetris Bagi Dunia Islam




“Setelah melalui perjalanan panjang, segalanya telah menjadi jelas bagi kita. Kehancuran kaum muslimin dengan jalan konvensional (perang) adalah mustahil. Karena mereka memiliki manhaj yang jelas dan yang tegas diatas konsep jihad fii sabilillah. Dengan manhaj ini, mereka tidak akan pernah mengalami kekalahan militer. Karena itu, Barat harus menempuh jalan lain.”

-King Louis XIV-

Secara Bahasa, Ghazwul Fikri terdiri dari dua suku kata yaitu Ghazwah dan Fikr. Ghazwah berarti serangan, serbuan atau invansi. Sedangkan Fikr berarti pemikiran. Jadi, Ghazwul Fikri secara bahasa dapat juga diartikan sebagai invansi pemikiran.

Secara istilah, Ghazwul Fikri adalah serangan terhadap pemikiran umat muslim agar mereka kehilangan jati dirinya, sehingga tidak bisa lagi memiliki pandangan yang nyata terhadap konsep keislamannya sehingga berpengaruh kepada semua tatanan kehidupan mereka.

Menurut Syeikh Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, dalam bukunya Invasi Pemikiran dan Pengaruhnya Kepada Masyarakat Islam Masakini (1989), Ghazwul Fikri adalah merupakan suatu upaya untuk menjadikan umat muslim kehilangan identitasnya, antara lain seperti:

  1. Melemahkan dasar ideologi keagamaan, kebangsaan dan lainnya agar suatu bangsa dapat tunduk kepada kepentingan penyerang.
  2. Menjadikan mereka selalu menjadi pengekor setia negara-negara maju, sehingga terjadi ketergantungan di segala bidang.
  3. Membuat umat Islam khususnya, mengadopsi ideologi dan pemikiran kafir secara membabi buta dan serampangan, berpaling dari manhaj Islam, Al Quran dan Sunnah.
  4. Membuat kaum muslim mengambil sistem pendidikan dan pengajaran negara-negara penyerang.
  5. Umat islam terputus hubungannya dengan sejarah masa lalu, sirah Nabinya dan salafus saleh.
  6. Membuat dan memaksa suatu kaum yang diserang menggunakan bahasa penyerangnya.
  7. Melembagakan moral, tradisi, dan adat-istiadat bangsa penyerang di negara yang diserangnya.

Secara sederhana, Ghazwul Fikri dapat diartikan sebagai perang pemikiran atau perang intelektual. itulah yang membuat serangan ini tidak kentara, lebih soft dan cenderung tidak terukur, namun karena luasnya pembahasan, maka ada pula yang mengartikannya sebagai invasi pemikiran, perang ideologi, perang budaya, perang urat syaraf, bahkan perang peradaban.

Dalam arti luas Ghazwul Fikri adalah cara atau bentuk penyerangan yang senjatanya berupa pemikiran, tulisan, ide-ide, teori, argumentasi, propaganda media, dialog serta perang urat syaraf sebagai upaya lain pengganti senjata konvensional yakni, pedang, bom dan persenjataan lainnya. Ia merupakan perang non konvensional, baik cara, sarana, alat, tentara, target maupun sasarannya.

Namun demikian Ghazwul Fikri tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari metode perang yang bertujuan untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya, atau jika hal tersebut tidak tercapai, setidaknya dapat mendangkalkan keagamaan seseorang atau masyarakat. Ia bukanlah merupakan tahapan peperangan, akan tetapi hanya sebagai pelengkap dan peyempurna dari sebuah peperangan atau penyerbuan orang-orang kafir terhadap umat muslim.

Dalam sejarah kontemporer, penerapan Ghazwul Fikri dilakukan oleh orang-orang kafir setelah mereka gagal menaklukan dunia Islam melalui perang konvensional pada Perang Salib. Kekalahan telak yang mereka alami menimbulkan kesadaran baru bagi mereka, bahwa untuk menaklukan Islam diperlukan serangan yang sifatnya non militer (non konvensional).

Orang pertama yang menyadari perlunya metode baru untuk menghancurkan atau menaklukan dunia Islam adalah King Louis XIV, raja Perancis yang tertawan di Al-Manshuriyah pada Perang Salib VII. Ia menyerukan untuk melipat-gandakan serbuan terhadap kaum muslimin. Dalam memoarnya ia menulis,“Setelah melalui perjalanan panjang, segalanya telah menjadi jelas bagi kita. Kehancuran kaum muslimin dengan jalan konvensional adalah mustahil. Karena mereka memiliki manhaj yang jelas dan yang tegas diatas konsep jihad fii sabilillah. Dengan manhaj ini, mereka tidak akan pernah mengalami kekalahan militer. Karena itu, Barat harus menempuh jalan lain (bukan militer).”

Yang dimaksud dengan “jalan lain” tersebut yaitu adalah jalan ideologi dengan cara mencabut akar manhaj dan mengosongkannya dari kekuatan, militansi dan keberaniannya. Caranya tidak lain adalah dengan menghancurkan konsep-konsep dasar Islam dengan berbagai cara antara lain:

  1. Tasykik, yaitu menimbulkan keragu-raguan dan pendangkalan dalam jiwa kaum muslimin terhadap agamanya. Yang menjadi sasaran utama dalam metode ini adalah validitas sumber-sumber hukum islam, yaitu Al-quran dan Hadis. Berbagai teori bohong diungkapkan oleh para orientalis untuk menimbulkan keragu-raguan akan kebenaran wahyu Allah. Mereka menuduh bahwa isi Al-quran sudah tidak rasional agar kaum muslimin tidak lagi mengkajinya.
  2. Tasywih, yaitu pengaburan. Adalah upaya orang kafir untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap islam dengan cara menggambarkan islam secara buruk. Seringkali mereka menyematkan gelar seperti teroris, fundamentalis, ekstrimis, islam garis keras, dan lain-lain. Tentunya julukan tersebut tidak hanya sebagai hinaan semata bagi kaum muslimin, melainkan juga salah satu bentuk Tasywih agar kaum muslimin mulai tidak bangga terhadap agamanya sendiri.
  3. Tadzwiib, yaitu pelarutan, pencampur-adukan antara pemikiran dan budaya islam dengan pemikiran dan budaya jahiliyah. Tujuanya jelas yaitu agar tidak lagi ada jarak pemikiran dan budaya islam dengan pemikiran dan budaya kufur, sehingga orang islam tidak tahu lagi mana pemikiran dan budaya islam dan mana yang bukan.
  4. Taghrib, (modernisasi), yaitu mendorong kaum muslimin untuk menyenangi dan menerima pemikiran yang berbau modern, seperti kebudayaan dan gaya hidup orang-orang barat. mereka akan berusaha keras untuk mengeringkan nilai-nilai islam dari jiwa kaum muslimin dan mengisinya dengan nilai-nilai yang menyimpang dari islam.

Selain King Louis XIV, Samuel Martinus Zwemer yang juga seorang tokoh Yahudi Kristen juga pernah membuat pernyataan ekplisit tentang pola Ghazwul Fikri, Ia mengatakan, “Tujuan kita sekarang bukanlah mengkristenkan umat Islam, target kita adalah menjauhkan kaum muslimin dari Islam. Ini yang harus kita capai walaupun mereka tidak bergabung dengan kita.”

Strategi Ghazwul Fikri seperti itu sebenarnya sudah pernah dipraktekan oleh orang-orang munafik dan orang-orang zindik pada awal Islam, kita mengenalnya sebagai seorang munafik dan pembuat fitnah besar pada masa Nabi Muhammad SAW, yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Menurut Anwar Al-Jundi dalam Hakikat Ghazwul Fikri Terhadap Islam (1990), yang selanjutnya melancarkan gerakan Ghazwul Fikri setelah Abdullah bin Ubay bin Salul adalah Abdullah bin Saba’ dan Abdullah bin Muqoffa’ beserta kaum zindik. Saat itu Ghazwul Fikri dikenal sebagai sebuah strategi atau metode baru dalam menyerang dunia Islam. Ironisnya para aktivis gerakan Islam saat itu baru menyadari pola Ghazwul Fikri setelah banyak korban yang telah berjatuhan.

Menelisik polemik yang tengah ramai di tengah masyarakat belakangan ini, terkait pernyataan Gubernur DKI yang “diduga” telah melecehkan ayat Al-Quran, umat muslim di Indonesia kini seperti saling serang tentang pemahaman dalam memaknai konsep-konsep kepemimpinan dalam Islam, saling tuduh dan kecam antar tokoh agama pun tidak dapat dihindari.

Mengingat indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, maka mungkinkah indonesia saat ini berada dalam situasi Ghazwul Fikri?

 

Oleh:

Abdul Aziz

Ketua Dept. Geostrategi Dan Perbatasan,

MPP ICMI

 

 

Be Sociable, Share!

Tags: ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan