start over Makanan Lokal yang Kaya Manfaat tapi Terlupakan - FAKTA.CO.ID

FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

Senin, 27 Februari 2017

Makanan Lokal yang Kaya Manfaat tapi Terlupakan

Makanan Lokal yang Kaya Manfaat tapi Terlupakan




Fakta.co.id – Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Prof. Made Astawan, mengatakan kalau tanaman pangan lokal Indonesia secara alami mengandung berbagai komponen bioaktif, yang berkhasiat untuk kesehatan.

“Untuk hidup sehat, kita tidak hanya membutuhkan zat-zat gizi, tetapi juga zat-zat non gizi, berupa berbagai senyawa fitokimia yang merupakan komponen bioaktif untuk mencegah berbagai penyakit,” kata Made, di Bogor, Minggu (16/10), seperti yang dilansirAntara.

Made menjelaskan, beberapa pangan tradisional dapat digolongkan sebagai pangan fungsional, karena selain mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, juga mengandung berbagai komponen bioaktif uang berperan penting bagi kesehatan.

Seperti tempe, pangan tradisonal Indonesia telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan, karena memiliki aktivitas seperti, hipoglikemik, hipotensifm imonumodulator, antioksidan, anti inflamasi, anti-alergi, anti-aterosklerosis, anti-trombosit dan antimikroba.

Begitu juga dadih (susu sapi murni yang disimpan dalam bambu, makanan tradisional dari Sumatera Barat) menghasilkan berbagai peptida dari protein yang terhidrolasi.

“Peptida-peptida ini dapat berperan untuk meningkatkan penyerapan kalsium dan zat besi, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan tekanan darah, menekan sel tumor, antitrombotik,” kata Made.

Menurut Made, saat ini konsumsi pangan berbahan baku lokal Indonesia jumlahnya terus menurun. Sejak 2005, mayoritas masyarakat Indonesia bertumpu pada satu sumber karbohidrat utama yakni beras dan terigu.

Di satu sisi, data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan proporsi kematian di Indonesia sebagai besar (71 persen) dikarenakan penyakit tidak menular, yakni kardiovaskuler 37 persen, kanker 13 persen, diabetes 6 persen, penyakit perfanasan kronis 5 persen, dan PTM lainnya 10 persen.

Sedangkan kematian menular dan yang terkait kekurangan gizi hanya sebesar 22 persen.

“Tingginya kematian akibat penyakit degeneratif menunjukkan pola makan penduduk yang tidak sehat, terutama akibat konsumsi bahan pangan yang kurang beragam, berimbang dan bergizi, serta masih tingginya penggunaan gula, garam dan lemak dalam pengolahan makanan,” kata Made.

Dalam memperingati Hari Pangan Sedunia, Made mengingatkan inovasi merupakan kunci penting dalam pengolahan pangan lokal agar menjadi produk yang dapat diterima dan menarik perhatian masyarakat.

“Dengan begitu masyarakat Indonesia tidak ragu untuk mengonsumsi pangan lokal dan memetik manfaat sehatnya,” kata Made.

Contoh jenis pangan lokal yang potensial dikembangkan oleh petani adalah jagung dan umbi-umbian. Selain tingkat konsumsi masyarakat tinggi, petani juga mendapat keuntungan dengan produktivitas yang tinggi.

Untuk mendorong agar petani mau menanam produk pangan lokal, perlu ada mekanisme subsidi dari pemerintah kepada petani, dan menumbuhkan permintaan dengan sosialisasi yang baik.

Sejatinya Indonesia memiliki keragaman yang tinggi dalam penyediaan bahan pangan sumber karbohidrat (lebih dari 30 jenis pangan), dengan komposisi gizi yang tidak kalah dengan beras dan sagu.

“Perlu pemberdayaan pangan lokal dalam rangka ketahanan pangan dan Indonesia,” kata Made.

Be Sociable, Share!

Tags: ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan