start over Guru Honorer SMAN 13 Depok Dipecat Usai 'Posting' Dugaan Praktek Pungli - FAKTA.CO.ID

FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

Selasa, 27 Juni 2017

Guru Honorer SMAN 13 Depok Dipecat Usai ‘Posting’ Dugaan Praktek Pungli

Guru Honorer SMAN 13 Depok Dipecat Usai ‘Posting’ Dugaan Praktek Pungli




Fakta.co.id – Gara-gara memposting cerita soal dugaan pungutan liar di SMAN 13 Depok Cimanggis seorang guru honorer dipecat. Adalah Andika Ramadhan Febriansah yang diberhentikan sepihak oleh pihak sekolah.

Cerita bermula ketika Dika memposting mengenai dugaan pungutan liar dan bangunan sekolah yang tak kunjung selesai tentang buruknya sistem pendidikan yang ada di sekolah tersebut. Nahasnya, setelah memposting itu Dika malah dipecat.

Setelah dia memposting, mahasiswa semester akhir itu mendapat kabar kalau dirinya tidak lagi mengajar di sekolah tersebut. Dia menduga ini dipicu postingan dirinya. “Setelah saya posting tentang keluhan siswa mengenai pungli dan keadaan sekolah beberapa waktu lalu, saya lihat nama saya sudah nggak ada lagi,” kata Dika, Rabu (11/1).

Dia sempat menemui kepala sekolah untuk meminta penjelasan. Dari penjelasan kepsek dia mendapat klarifikasi kalau masa kontraknya habis.

Dia kemudian mempertanyakan tentang sikap sekolah yang dinilai tak adil. Menurutnya kalau memang dirinya belum lulus sarjana seharusnya diberitahukan sejak awal.

“Saya katanya mau dipindahkan ke bagian perpustakaan agar saya fokus selesai kan skripsi. Karena postingan ini ramai, saya diberhentikan. Padahal apa yang saya tulis benar adanya,” ujar dia.

Dia menuturkan, alasan lain dia diberhentikan lantaran metode pengajaran yang diduga tidak sesuai dengan ketentuan sekolah. Padahal pola ajarnya dirasa membuat siswa senang.

“Saya ikutin metode pembelanjaran Finlandia. Caranya saya suka putarkan film yang membangkitkan semangat anak-anak, kemudian buat resume terhadap film yang ditonton. Tapi itu dinilai tidak tepat,” ucapnya.

Saat mengajar dia juga tidak memberikan ulangan. Tetapi di memberikan tugas setiap minggu. “Saya menumbuhkan kepercayaan ke mereka supaya nggak minder dengan bangunan sekolah yang masih mangkrak, harus terus bersemangat,” ungkapnya.

Dirinya juga sempat membentuk komunitas belajar di luar jam sekolah. Dia merasa keberatan dengan pemberhentian dirinya tersebut. Sebab, Dika menuturkan kerap mendengar orang yang mengeluh soal sumbangan. “Jumlahnya ada yang bayar Rp 300 ribu. Uang foto kopi juga begitu, ada yang ngadu ke saya per lembarnya Rp 1.000. Saya lapor ke banyak guru, jawabanya mengecewakan,” ujarnya.

Dirinya berharap dapat menyelesaikan permasalahan itu secara kekeluargaan. “Bagi saya yang terpenting adalah status saya. Saya nggak mau sekolah begitu sinis melihat gerakan #SaveDika, begitu sinis melihat anak-anak yang meneriakkan nama saya, seolah-olah mereka salah membela saya,” pungkasnya.

Share Di Social Media:

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan