start over Dicurigai Sebagai Mata-mata, Iran Penjarakan Mahasiswa AS-China - FAKTA.CO.ID

FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

Senin, 20 November 2017

Dicurigai Sebagai Mata-mata, Iran Penjarakan Mahasiswa AS-China

Dicurigai Sebagai Mata-mata, Iran Penjarakan Mahasiswa AS-China




Fakta.co.id – Juru bicara Pengadilan Iran menyatakan telah menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun kepada seorang mahasiswa Universitas Princeton berkewarganegaraan ganda atas dakwaan memata-matai negara.

Xiyue Wang, 37, terbukti “memata-matai negara dengan berpura-pura meneliti,” kata Mizan, situs peradilan resmi Iran. Wang lahir di China tapi dinaturalisasi sebagai warga negara Amerika Serikat.

“Orang ini, yang mengumpulkan informasi dan secara langsung diarahkan oleh Amerika, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, tapi hukuman itu bisa digugat,” kata juru bicara Gholamhossein Mohseni Ejei dalam pernyataan di televisi negara, sebagaimana dikutip¬†Reuters, Senin (17/7).

Kementerian Luar Negeri AS menuding Iran membuat-buat dakwaan terkait keamanan nasional untuk menahan warga Amerika dan negara-negara lain.

“Kami meminta semua warga AS yang ditahan secara sewenang-wenang di Iran agar segera dibebaskan untuk kembali ke keluarga masing-masing,” kata seorang pejabat Kemlu AS. “Semua warga AS yang berencana pergi ke Irak, terutama yang berkewarganegaraan ganda, harus membaca peringatan terakhir kami.”

Wang juga aktif di Pusat Studi Iran dan Teluk Persia Sharmin dan Bijan Mossavar-Rahmani di Universitas Princeton. Mizan menyebut pusat studi itu terkait dengan intelijen Barat dan Israel.

“Mata-mata Amerika yang ditahan di Iran juga berada di pusat itu dan misi yang dia emban adalah memperoleh informasi dan dokumen rahasia,” kata Mizan. Ia disebut telah menyalin lebih dari 4.500 dokumen.

Wang ditahan pada Juli 2016 ketika mencoba untuk meninggalkan Iran “setelah ia khawatir akan keadaannya,” kata Mizan.

Menurut pihak kampus, Wang adalah seorang kandidat doktor di Princeton, mendalami sejarah Eurasia abad 19 dan awal 20. Ia berada di Iran untuk meneliti dinasti Qajar.

“Kami sangat terganggu dengan dakwaan yang dijatuhkan terkait dengan aktivitas penelitiannya, dan dengan penjatuhan vonis dan hukumannya,” bunyi pernyataan Princeton. “Keluarganya dan Universitas … berharap dia akan dibebaskan setelah kasusnya disidang di pengadilan banding di Teheran.”

Be Sociable, Share!

Tags: ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan