start over Mesir Telah Memutus Ikatan Kerjasama Militer Dengan Korut - FAKTA.CO.ID

FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

Sabtu, 18 November 2017

Mesir Telah Memutus Ikatan Kerjasama Militer Dengan Korut

Mesir Telah Memutus Ikatan Kerjasama Militer Dengan Korut




Fakta.co.id – Menteri Pertahanan Mesir, Sedki Sobhy, menyatakan bahwa negaranya telah memutus ikatan serta kerjasama militer dengan Korea Utara. Kabar itu disampaikannya ketika Sobhy mengunjungi Korea Selatan.

Sebagaimana dikutip dari Associated Press, Rabu (12/9/2017) Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengklaim, langkah pemutusan kerjasama itu disampaikan Sobhy ketika ia bertemu dengan Menteri Pertahanan Seoul, Song Young-moo.

Yonhap mewartakan, Mesir telah mengakhiri semua ikatan militer dengan Korea Utara. “Mesir akan secara aktif bekerjasama dengan Korea Selatan melawan tindakan Korea Utara yang mengancam perdamaian,” ujar Sobhi kepada Yonhap.

Yonhap menyebut komentar Sobhi ini merupakan respon dari permintaan Song Young-moo yang mendorong agar Mesir ikut memberikan usahanya dalam menguatkan sanksi terhadap Korea Utara akibat tindakan provokasi Pyongyang.

Juru bicara militer Mesir, Kolonel Tamer el-Rifai, membenarkan kunjungan Sobhi ke Korea Selatan dan di sana ia memiliki agenda utama untuk mendiskusikan kerjasama di bidang keamanan. Namun sayangnya, El-Rifai tidak memberikan detail mengenai bentuk dari kerjasama militer dengan Korea Utara yang notabene Kairo telah hentikan.

Mesir disebut telah memiliki hubungan yang baik dengan Korea Utara selama beberapa dekade. Dengan kedua negara berfokus dalam jual beli senjata, khususnya rudal jarak menengah.

Selain itu, pengusaha Mesir ternama, Naguib Sawiris, diketahui juga membantu untuk mengembangan jaringan telefon seluler di Korea Utara pada 2008. Bahkan perusahaan milik Sawiris telah memberikan investasi di sana sekira USD500 juta.

Pemutusan hubungan militer ini juga hanya berselang beberapa jam sebelum Dewan Keamanan PBB kembali menjatuhkan sanksi baru terhadap Korea Utara. Sanksi itu merupakan respons dari uji coba bom hidrogen yang dilakukan pada awal September 2017.

Resolusi sanksi tersebut disepakati pada Senin 11 September setelah Washington mencabut sejumlah poin. AS sempat mengusulkan agar diberlakukan embargo minyak secara menyeluruh terhadap Korut dan pembekuan aset milik Kim Jong-un. Namun, dua poin usulan tersebut akhirnya dibatalkan.

Meski demikian, larangan impor di sektor minyak dan gas (migas) tetap dijatuhkan bagi Korut untuk beberapa komoditas. Melansir dari Sky News, resolusi baru tersebut melarang Pyongyang untuk mengimpor seluruh gas alam cair dan kondensat.

Sementara itu impor minyak mentah hanya dibatasi pada batas yang biasa diimpor Korut dalam 12 bulan terakhir. Resolusi juga membatasi impor produk minyak sulingan menjadi 2 juta barel per tahun.

Dua poin lainnya juga tetap berlaku, yaitu untuk produk tekstil dan tenaga kerja. Resolusi melarang Korut untuk mengekspor produk tekstil mereka. Untuk sektor tenaga kerja, semua negara dilarang untuk menerbitkan izin kerja bagi pekerja berpaspor Korea Utara.

Duta Besar China untuk PBB, Liu Jieyi, mendesak Korut agar menyikapi dengan serius sanksi tersebut. ia juga meminta semua pihak yang terkait ketegangan di Semenanjung Korea untuk lebih berkepala dingin. Sebagaimana diketahui, China adalah mitra dagang utama sekaligus sekutu Korut di dunia internasional.

Be Sociable, Share!

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan