FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

15 Desember 2017

Suu Kyi Mengaku Turut Prihatin Atas Kekerasan yang Terjadi di Rakhine State

Suu Kyi Mengaku Turut Prihatin Atas Kekerasan yang Terjadi di Rakhine State




Fakta.co.id – Seperti yang sudah diberitakan, Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi angkat suara mengenai krisis di Rakhine State yang melibatkan etnis minoritas Rohingya. Ia mengatakan, Pemerintah Myanmar masih butuh mencari tahu problem sesungguhnya di Rakhine State. Sebab, ada banyak tuduhan dan kontra-tuduhan yang harus diselidiki terlebih dahulu.

Suu Kyi mengakui bahwa dirinya paham akan perhatian dunia terhadap krisis di Rakhine, terutama kepada masyarakat etnis Rohingya. Sebagai anggota masyarakat internasional yang bertanggung jawab, Myanmar disebutnya tidak takut akan pengawasan dari dunia.

“Saya sadar pada fakta bahwa dunia menaruh perhatian pada situasi di Rakhine State. Sebagai anggota masyarakat internasional yang bertanggung jawab, Myanmar tidak takut akan pengawasan dunia internasional,” tukas Aung San Suu Kyi dalam pidato nasional di Naypyidaw, mengutip dari The Guardian, Selasa (19/9/2017).

“Kami juga prihatin. Kami ingin mencari tahu seperti apa masalah sesungguhnya. Ada tuduhan dan kontra-tuduhan. Kami harus mendengar semuanya. Kami harus meyakinkan bahwa tuduhan itu berdasarkan bukti yang solid sebelum mengambil aksi,” ujar perempuan berusia 72 tahun itu.

Aung San Suu Kyi mengklaim, mayoritas warga di desa-desa yang dihuni etnis Rohingya tidak terkena dampak dari kekerasan yang dilakukan militer Myanmar. Ia mengatakan, militer yang selama ini dituduh melakukan pembakaran dan pembunuhan secara diskriminatif, sudah diinstruksikan untuk menahan diri dan menghindari dampak berkepanjangan.

“Kami sangat prihatin mendengar sejumlah Muslim melarikan diri menyeberangi perbatasan ke Bangladesh. Kami ingin mencari tahu mengapa eksodus ini terjadi,” tandas Aung San Suu Kyi.

Penerima Nobel Perdamaian itu memastikan bahwa tindakan akan dilakukan terhadap siapa pun, tanpa memandang ras atau posisi politik, yang melanggar hukum di Myanmar. Sikap serupa juga dilakukan bagi siapa pun yang melanggar hak asasi manusia (HAM).

Patut dicatat bahwa selama pidato nasional itu, Suu Kyi hanya sekali menggunakan nama Rohingya. Penggunaan tersebut dilakukan untuk merujuk pada kelompok militan Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA).

Tags: ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

One Response

  1. Efendi Koto

    Efendi Koto19 September 2017 at 12:29Reply

    Ah,,,masak loe tdk tau,di negara loe ada pembantaian.di seluruh dunia orang sdh pada tau.loe cuma pembelaan diri aja,dasar myanmar negara/bangsa pembunuh keturunan iblis.

Tinggalkan Balasan