FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

17 Desember 2017

Festival Bir Pyongyang Dibatalkan Akibat Bencana Kekeringan yang Melanda Korut

Festival Bir Pyongyang Dibatalkan Akibat Bencana Kekeringan yang Melanda Korut




Fakta.co.id – Tahun ini, “Festival Bir Pyongyang” harus tersingkir dari kalender tahunan masyarakat Korea Utara. Festival yang baru terselenggara selama satu tahun itu terpaksa dibatalkan akibat bencana kekeringan yang sempat melanda Korea Utara.

Salah satu perusahaan penyedia jasa perjalanan dan wisata terbesar di Korea Utara, Koryo Tours and Young Pioneer Tours mengungkapkan, pemerintah berpandangan, penyelenggaraan festival di tengah bencana kekeringan dapat berdampak negatif bagi kondisi sosial masyarakat.

“Tidak akan terlihat baik bagi masyarakat kelas menengah Pyongyang untuk bersenang-senang saat orang-orang bekerja untuk mengatasi kekeringan,” tutur Jenderal Manajer Koryo, Simon Cockerell.

Pada penyelenggaraan perdananya tahun lalu, Festival Bir Pyongyang berhasil menyita perhatian dunia. Sekitar 45.000, termasuk ribuan turis asing berpartisipasi dalam festival yang menyajikan berbagai label bir hasil produksi pabrikan lokal milik pemerintah, Taedonggang.

Festival Bir Pyongyang Juli 2016 nampaknya jadi pesta pora terakhir masyarakat Korea Utara, menyusul larangan menggelar pesta pora yang diserukan Presiden Kim Jong-un. Larangan tersebut diberlakukan pemerintah sebagai langkah untuk meningkatkan kontrol terhadap masyarakat Korea Utara.

Sebagaimana dilansir Telegraph, kabar tersebut disampaikan oleh intelijen Korea Selatan dalam sebuah pertemuan dengan anggota parlemen di Seoul.

“Pyongyang telah merancang sebuah sistem dimana organ partai melaporkan kesulitan ekonomi masyarakat setiap hari, dan telah melarang pertemuan yang berkaitan dengan minum, bernyanyi dan hiburan lainnya,” demikian bunyi laporan Biro Intelijen Nasional Korea Selatan.

Selain sebagai upaya peningkatan kontrol sosial, larangan tersebut juga merupakan langkah pemerintah Korea Utara untuk bertahan dari sanksi yang diberikan oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) pada September lalu.

Tamparan Keras DK PBB

Sebagai buntut dari serangkaian enam uji coba senjata nuklir yang dilakukan Korea Utara, DK PBB menjatuhkan sanksi keras terhadap pemerintahan Kim Jong-un, yakni berupa pembatasan impor minyak dan larangan ekspor tekstil bagi negara totalitarian itu.

Rancangan atau resolusi sanksi yang diadopsi DK PBB itu diajukan oleh Amerika Serikat. Resolusi itu pun kemudian disahkan pada Senin, 11 September 2017 waktu New York, setelah Washington sepakat untuk merevisi draft resolusi atas tekanan China dan Moskow.

Menurut data Badan Promosi Perdagangan Korea Utara, tekstil merupakan komoditi terbesar kedua di Korea Utara dengan nilai pendapatan dari hasil ekspor yang mencapai USD 752 juta. Karenanya, sanksi yang diberikan PBB kepada Korea Utara bagai sebuah tamparan yang sangat keras.

Menolak Tunduk

Tepat sebelum pertemuan DK PBB digelar, Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyampaikan, uji coba senjata nuklir milik mereka adalah sah sebagai bagian dari upaya membela diri.

”Jika AS benar-benar melakukan resolusi ilegal dan melanggar hukum atas sanksi yang lebih keras, DPRK (Korut) harus benar-benar yakin bahwa AS membayar harga yang pantas,” demikian yang disampaikan Kementerian Luar Negeri Korea Utara.

Maka, jika resolusi Amerika Serikat terbukti ilegal, Korea Utara mengancam akan mengambil langkah keras dan tegas terhadap Amerika Serikat.

”Dunia akan menyaksikan bagaimana DPRK menjinakkan gangster AS dengan melakukan serangkaian tindakan lebih keras daripada yang pernah mereka bayangkan,” imbuh Kementerian Luar Negeri Korea Utara.

”DPRK telah mengembangkan dan menyempurnakan senjata termo-nuklir superkuat sebagai alat untuk mencegah pergerakan permusuhan dan ancaman nuklir yang terus meningkat di AS dan meredakan bahaya perang nuklir yang menjulang di atas semenanjung Korea dan kawasan ini.”

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan