FAKTA.CO.ID

Portal Berita Terpercaya. Politik, Ekonomi, Hukum, Kriminal, Olahraga, Otomotif, Hiburan dari nasional hingga mancanegara.

19 September 2018

Menko Darmin Minta Bulog Serap 1,2 Juta Ton Beras

Menko Darmin Minta Bulog Serap 1,2 Juta Ton Beras




Fakta.co.id – Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution meminta Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menyerap beras dan gabah sebesar 1,2 juta ton hingga bulan Juni mendatang. Ini demi menurunkan harga beras hingga kembali normal menjelang Ramadan, sesuai instruksi Presiden Joko Widodo.

Darmin mengatakan sampai saat ini serapan Bulog masih jauh dari target, yakni hanya 100 ribu ton. Ia berharap, panen raya yang terjadi pada April bisa meningkatkan serapan beras dan gabah Bulog.

Tak hanya itu, ia pun berharap harga gabah kering panen (GKP) yang saat ini ada di atas Rp5 ribu per kg bisa turun ke angka Rp4.400 per kg. Harga tersebut sesuai dengan fleksibilitas harga Perum Bulog, yakni 20 persen lebih tinggi dari Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015 sebesar Rp3.700 per kg.

“Kami memang sudah targetkan dari awal, sejak dua bulan lalu Bulog harus bisa membeli gabah atau beras setara dengan 1,2 juta ton sampai bulan Juni hingga Juli. Karena panen itu berasnya tidak dijual semua pada Mei, tapi juga pada Juni,” ujar Darmin di kantornya Senin malam (19/3).

Meski serapan Bulog masih belum maksimal, ia menjamin stok beras di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu masih aman demi memenuhi kebutuhan beberapa bulan ke depan.

Pemerintah Tak Berpangku Tangan

Saat ini, stok Bulog sebanyak 590 ribu ton akan dipakai untuk operasi pasar serta penyaluran beras untuk rakyat sejahtera (rastra).

“Bulog masih punya stok untuk operasi pasar. Walaupun besar-besaran masih adalah sampai akhir April, tetapi panen raya kami yakin akan terjadi akhir April. Panen raya biasanya surplus lebih besar, beras lebih banyak dikumpulkan,” ungkap dia.

Namun, pemerintah tidak akan berpangku tangan jelang panen raya. Menurutnya pengendalian harga tetap harus dilakukan mengingat bulan Ramadan tinggal dua bulan lagi. Maka itu, salah satu instrumen pengendalian harga yang dilakukan adalah dengan menambah persediaan melalui impor beras.

Pemerintah sudah sepakat akan mengimpor beras khusus sebanyak 500 ribu ton. Namun sesuai rapat koordinasi terbatas, diputuskan bahwa beras sebanyak 281 ribu ton akan diimpor hingga Februari kemarin.

Hanya saja, sampai saat ini beras yang tiba baru sebesar 261 ribu ton lantaran beras impor sebanyak 20 ribu ton dari India dan Pakistan tak kunjung datang. Sehingga, pemerintah memberi batasan waktu impor terakhir hingga Maret mendatang.

Sayangnya, ada kabar dari Pakistan dan India akan masuk pada Mei mendatang, sehingga pemerintah mengundurkan kembali tenggat waktu impor menjadi akhir Mei.

Meski terbilang lama, namun pemerintah tak bisa mengalihkan impor beras dari India dan Pakistan dengan alasan hubungan diplomatik. Jika Indonesia tak jadi impor, Darmin khawatir kedua negara tersebut marah mengingat defisit perdagangan India dan Pakistan terhadap Indonesia cukup besar.

“Khusus untuk itu cuma 20 ribu ton, kayaknya mereka sanggupnya Mei. Saya tidak tahu pertengahan atau akhir,” pungkas dia.

Pemerintah saat ini tengah berupaya agar harga beras bisa turun kembali ke level Harga Eceran Tertinggi (HET).

Menurut Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 57 Tahun 2017, HET beras medium ada di angka Rp9.450 hingga Rp10.250 per kilogram (kg). Sayangnya menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), rata-rata harga beras nasional per 19 Maret 2018 berada di angka Rp11.800 per kg.

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan